PASURUAN– Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan mendapat perhatian khusus dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait penanganan masalah kesehatan ternak bebek pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan peninjauan dan pemeriksaan yang berlangsung di lokasi peternakan BUMDes Desa Carat tersebut melibatkan anggota BRIN, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan, Koordinator Kabupaten (Korkab) Pasuruan, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Gempol, serta jajaran pengurus BUMDes.
Persoalan ini bermula ketika usaha ternak bebek yang pada periode awal berjalan normal tiba-tiba mengalami kasus kematian unggas yang tidak wajar pada beberapa periode berikutnya. Pengurus BUMDes yang belum mengetahui pemicu peristiwa tersebut kemudian berkoordinasi dengan dokter hewan dari Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan, drh. Uswatun Hasanah, sebelum akhirnya dikomunikasikan dengan pihak BRIN guna melakukan pengambilan sampel darah dan uji genomik secara mendalam.
Langkah pelibatan tim peneliti dilakukan karena tingginya frekuensi kematian bebek telah menimbulkan kerugian bagi unit usaha desa, sementara pengurus BUMDes belum memiliki keahlian khusus di bidang kesehatan unggas. Selain keterbatasan kompetensi teknis dalam mendiagnosis penyakit ternak, pihak BUMDes juga belum memiliki kemampuan mandiri untuk membiayai maupun melaksanakan pengujian laboratorium secara menyeluruh.
Perwakilan peneliti BRIN, Dwi Wahyu Neng Asih, M.Si., menjelaskan bahwa langkah pemeriksaan ilmiah di laboratorium sangat diperlukan untuk mengetahui faktor pemicu kematian unggas secara akurat. “Penyebab kematian bebek harus dilakukan uji sampel darah dan genomik untuk memastikan penyebab kematian dan mencegah kerugian yang lebih besar,” kata Dwi Wahyu Neng Asih, M.Si., yang turut diamini oleh drh. Uswatun Hasanah dengan menegaskan bahwa dalam mengelola ternak, kapasitas sumber daya manusia (SDM) juga harus ditingkatkan.
Rentetan kematian bebek yang belum teridentifikasi penyebabnya tersebut berdampak langsung pada kondisi finansial BUMDes Desa Carat. Tekanan kerugian yang dialami pengelola semakin berat mengingat biaya operasional dari harga pakan ternak terus mengalami kenaikan, sementara harga jual bebek di pasaran sedang menurun di tengah banyaknya populasi bebek yang mati.
Menanggapi kondisi tersebut, Koordinator Pendamping Kabupaten (Korkab) Pasuruan, Sutrisno, menekankan nilai strategis dari kolaborasi lintas instansi dalam mendampingi unit usaha desa. “Pentingnya kerja sama antara Ketahanan Pangan, BRIN, dan BUMDes akan meningkatkan SDM sehingga pengelola ketahanan pangan dapat mengelola ternak dengan baik,” ujar Sutrisno saat mendampingi jalannya kegiatan di lokasi.
Sebagai tindak lanjut dari pengambilan sampel di lapangan, tim peneliti akan memproses pengujian laboratorium terhadap sampel darah serta analisis genomik dari ternak bebek milik BUMDes Desa Carat. Hasil resmi dari uji laboratorium darah dan genomik tersebut nantinya akan dijadikan dasar acuan bagi pengurus BUMDes dalam menerapkan standar perawatan bebek pedaging secara tepat pada periode pemeliharaan berikutnya. *Sutris

