PASURUAN — Pesona Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, kembali menarik perhatian dari luar daerah. Kali ini, Komisi 1 DPRD Kota Batu melakukan kunjungan kerja ke Desa Jatiarjo pada Kamis (13/8/2026) untuk mempelajari tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekaligus menggali strategi pengembangan potensi desa.
Rombongan yang terdiri dari 11 anggota DPRD dan tujuh staf tersebut dipimpin langsung Ketua DPRD Kota Batu, H. Muhammad Didik Subiyanto. Kunjungan tersebut menjadi momentum berbagi pengalaman mengenai pengelolaan desa, pengembangan BUMDes, serta strategi membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Pertemuan berlangsung dengan suasana penuh diskusi. Hadir dalam kegiatan tersebut unsur DPMD Kabupaten Pasuruan beserta tim, Kasi Kesos dan PMD Kecamatan Prigen, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Prigen, serta sejumlah tokoh masyarakat Desa Jatiarjo.
Bahas Sinergi BUMDes dan KDKMP
Salah satu topik utama yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah sinergitas BUMDes dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Selain itu, peserta diskusi membahas sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat dan BUMDes, mulai dari pemasaran telur di tengah dinamika harga telur dan pakan, pengembangan perhutanan sosial, hingga peluang kerja sama dengan pihak eksternal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) maupun dukungan pemerintah supra desa.

Rombongan DPRD Kota Batu juga berbagi pengalaman mengenai regulasi dan kebijakan di wilayahnya yang diarahkan untuk mendukung pengembangan desa dan BUMDes.
Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi kedua daerah dalam memperkuat tata kelola pemerintahan desa sekaligus mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Jatiarjo Berhasil Naik Status Menjadi Desa Mandiri
Kepala Desa Jatiarjo, Dardiri, SH., MM., dalam kesempatan tersebut memaparkan berbagai potensi yang dimiliki desanya, baik dari sektor sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Ia juga menjelaskan perjalanan pembangunan Desa Jatiarjo selama hampir enam tahun terakhir. Berbekal pembangunan yang dilakukan secara bertahap dan berbasis data, Jatiarjo berhasil mengalami peningkatan status dari Desa Tertinggal, Desa Berkembang, Desa Maju hingga mencapai status Desa Mandiri pada 2024.
Menurut Dardiri, pembangunan desa berbasis data menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah kebijakan dan mengukur keberhasilan pembangunan.
“Pembangunan desa yang berbasis data sangat penting untuk menunjang tingkat keberhasilan pembangunan dan memastikan kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Dardiri.
Capaian tersebut sekaligus menjadi salah satu hal yang menarik perhatian rombongan DPRD Kota Batu dalam kunjungan lapangan tersebut.
BUMDes Arjuna Lestari Kembangkan Peternakan Ayam Petelur
Di sektor ekonomi, Desa Jatiarjo memiliki BUMDes Arjuna Lestari yang saat ini mengembangkan sejumlah unit usaha. Salah satu yang menjadi unggulan adalah usaha ketahanan pangan melalui peternakan ayam petelur.
Dari alokasi 20 persen Dana Desa Tahun 2025, pemerintah desa mengalokasikan penyertaan modal sebesar Rp281.193.100 untuk pengadaan 1.000 ekor ayam petelur.
Usaha tersebut kemudian terus dikembangkan. Dari modal awal 1.000 ekor, populasi ayam petelur saat ini telah bertambah menjadi sekitar 1.500 ekor melalui pengembangan usaha.
Selain peternakan ayam petelur, BUMDes Arjuna Lestari juga mengelola usaha pelayanan PPOB (Payment Point Online Bank) serta pengelolaan Kampung Kopi sebagai bagian dari upaya diversifikasi usaha desa.
Pengembangan berbagai unit usaha tersebut menjadi contoh bagaimana penyertaan modal desa dapat diarahkan untuk menciptakan aktivitas ekonomi produktif sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
BUMDes Masih Terus Berproses
Direktur BUMDes Arjuna Lestari, Achmat, M.Pd., mengatakan perjalanan BUMDes yang dikelolanya masih jauh dari kata sukses. Namun, proses pengembangan yang dilakukan secara bertahap mulai menunjukkan hasil positif.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan tim pendamping desa di Kecamatan Prigen.
“Perjalanan BUMDes ini masih jauh dari kata sukses. Namun, berkat kerja sama yang solid dan pendampingan yang terus dilakukan, arah pengembangan BUMDes mulai menunjukkan hasil yang membanggakan,” ujar Achmat.
Ia menilai pendampingan menjadi salah satu faktor penting dalam membantu BUMDes memperbaiki tata kelola, mengembangkan usaha, sekaligus menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis desa.
Jatiarjo Jadi Ruang Belajar Antarwilayah
Kunjungan kerja DPRD Kota Batu tersebut menunjukkan bahwa praktik pembangunan dan pengembangan ekonomi Desa Jatiarjo mulai menjadi referensi bagi daerah lain.
Tidak sekadar membahas keberhasilan, pertemuan tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai berbagai persoalan nyata yang dihadapi desa, mulai dari pemasaran produk, fluktuasi harga komoditas, pengembangan usaha BUMDes, hingga membangun sinergi dengan KDKMP dan pihak eksternal.
Melalui forum tersebut, Desa Jatiarjo dan DPRD Kota Batu sama-sama mendapatkan ruang untuk bertukar pengalaman dan mencari pendekatan yang dapat diterapkan sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Bagi Jatiarjo, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa kemandirian desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah desa, masyarakat, BUMDes, dan para pendamping dalam mengelola potensi tersebut secara terarah, berbasis data, dan berkelanjutan. (Sahabat Indra)
